Living, Eating, and AI 2026: Ketika Teknologi Mulai Mengubah Cara Kita Memilih Makanan, Memasak, hingga Menikmati Hidangan
Uncategorized

Living, Eating, and AI 2026: Ketika Teknologi Mulai Mengubah Cara Kita Memilih Makanan, Memasak, hingga Menikmati Hidangan

Kamu pernah nggak sih berdiri di depan rak snack di supermarket, bingung mau beli apa? Atau buka kulkas, lihat isinya, dan tetap nggak tahu mau masak apa?

Di 2026, kebingungan kecil itu mulai punya jawaban. Bukan dari ibumu. Bukan dari resep di internet. Tapi dari AI—yang perlahan masuk ke dapur, meja makan, dan keputusan-keputusan kecil tentang apa yang kita konsumsi setiap hari.

Dan menariknya, ini bukan soal teknologi yang “keren”. Ini soal teknologi yang mulai ngerti kamu. Atau setidaknya, mencoba.


Kulkas yang Bisa Ngobrol dan Ngerti Isinya

Bayangkan kamu buka kulkas, dan kulkasnya yang ngomong duluan.

Itulah yang LG tawarkan lewat LG SIGNATURE refrigerator terbaru mereka, yang diperkenalkan di CES 2026. Kulkas ini pakai conversational AI berbasis Large Language Model (LLM)—jadi kamu bisa ngobrol natural, dan dia kasih saran yang disesuaikan .

Yang lebih pintar lagi: fitur AI Fresh memantau fluktuasi suhu berdasarkan pola penggunaanmu. Kalau sistem tahu kamu biasanya buka kulkas jam 6 sore, dia akan pre-cool interiornya sampai dua jam sebelumnya .

Lalu ada ThinQ Food. Kamera internal mengidentifikasi bahan-bahan yang ada di dalam, lalu menyarankan resep dan substitusi kreatif berdasarkan apa yang kamu punya. Nggak perlu lagi buka resep online dan sadar bahan utamanya nggak ada .

Samsung nggak mau kalah. Di CES 2026, mereka memperkenalkan Bespoke AI Family Hub dengan AI Vision yang di-upgrade—sekarang terintegrasi dengan Google Gemini. Kameranya bisa mengenali lebih banyak jenis bahan, termasuk makanan olahan yang sebelumnya harus didaftarkan manual .

Dan kalau kamu punya koleksi wine? Samsung juga punya Bespoke AI Wine yang bisa mengenali label wine lewat kamera, melacak posisinya di rak, dan bahkan menyarankan food pairing berdasarkan stok yang kamu punya .


Oven yang “Lihat” Makananmu dan Tahu Kapan Matang

Masalah klasik memasak: kamu buka oven, lihat makanan, dan bertanya-tanya, “Ini udah matang belum ya?”

LG punya jawabannya. LG SIGNATURE Oven Range dengan fitur Gourmet AI menggunakan kamera internal untuk mengidentifikasi lebih dari 85 hidangan dan otomatis memilih setting memasak yang ideal. Ada juga AI Browning yang memantau roti saat dipanggang dan mengirim notifikasi lewat ThinQ app ketika tingkat kematangan yang kamu inginkan tercapai .

Bosch juga serius. Bosch Cook AI yang debut internasionalnya di CES 2026 menggabungkan agentic AI dengan sensor dan teknologi peralatan Bosch sendiri. Sistem ini memberikan panduan memasak real-time, beradaptasi dengan bahan yang tersedia, dan mengoordinasikan beberapa peralatan sekaligus untuk hasil optimal .

Dan Miele? Mereka punya CulinaryCoach di Miele App—asisten memasak berbasis AI yang menggabungkan pengetahuan resep Miele dengan pengetahuan peralatan. Kamu bisa tanya tentang persiapan, dan sistemnya bisa mentransfer setting yang tepat langsung ke ovenmu .

Yang menarik, di AWE 2026 di China, Robam (老板电器) meluncurkan AI Cooking Glasses—kacamata pintar yang bisa mengenali bahan dan langkah memasak lewat kamera, lalu mengarahkan peralatan dapur AI seperti hood, kompor, dan oven untuk bekerja sama. Mereka juga punya AI All-Automatic Steam-Oven dengan humidity probe yang mengubah “api” (火候) dari sesuatu yang sulit diukur menjadi data presisi .


Restoran yang Baca Wajahmu Sebelum Kamu Pesan

Sekarang bagian yang agak… berbeda.

Di Hangzhou, China, ada restoran bernama 24 Jieqi Robot Restaurant yang menganalisis wajah dan lidah pelanggan sebelum merekomendasikan menu. Sistem AI-nya memindai kondisi wajah dan lidah untuk membaca indikasi gaya hidup dan kondisi tubuh, lalu menyusun laporan singkat dan memberikan rekomendasi hidangan yang dinilai sesuai dengan kebutuhan kesehatan pelanggan .

Kedengarannya seperti fiksi ilmiah? Mungkin. Tapi restoran ini nyata, dan sudah viral.

Yang lebih menarik: 8 robot menangani sekitar 60% beban kerja dapur. Seorang chef di sana, Deng Xuhui, bilang: “Ini menghemat setengah energi saya. Jadi saya bisa fokus mengecek kualitas bahan baku, menciptakan menu baru, dan mengelola dapur” .

Respons pelanggan beragam. Seorang pelanggan tetap mengaku terkejut dengan kualitas makanan yang dihasilkan robot. “Rasanya tidak berbeda dengan masakan yang dibuat oleh manusia. Rasanya tidak terlalu asin atau berminyak. Sangat cocok untuk kami yang sudah lanjut usia” .

Di Moskow, Rusia, ada Matryoshka—restoran AI pertama di Rusia yang dijalankan oleh lebih dari 20 neural network. AI di sana bukan cuma alat bantu; dia berfungsi sebagai pelayan, ahli gizi, dan supervisor. Hanya ada dua chef dan satu bartender; sisanya dikelola AI .

Chef Andrey di Matryoshka bilang: “Ini kerja sama tim, dan saya nggak merasa tertekan. AI memudahkan dan mempercepat segalanya. Kadang kami nggak setuju, dan saya coba menyesuaikan agar lebih bisa diterima. Kadang ide saya juga disetujui AI” .


AI yang Bantu Kamu Pilih Snack (dan Kadang Lebih Dipercaya dari Sahabatmu)

Sekarang kembali ke supermarket.

Accenture melakukan survei terhadap 1.518 konsumen snack dan minuman di 16 negara. Hasilnya? 80% terbuka untuk berkolaborasi dengan AI agent yang bekerja sama dengan konsumen untuk menemukan opsi terbaik. 68% bersedia membiarkan AI mengeksekusi tugas tertentu. Dan 8% siap memberi AI otonomi penuh untuk melakukan pembelian, dengan batasan yang mereka tetapkan sendiri .

Yang paling menarik: 74% responden bilang mereka akan lebih mempercayai AI agent daripada sahabat mereka untuk melakukan pembelian .

Dan 63% konsumen snack dan minuman akan menginstruksikan AI agent untuk berbelanja untuk “idealized self” mereka—versi diri yang lebih sehat, lebih hemat, atau lebih berkualitas yang mereka aspire .

Studi dari Conagra dan Circana yang mencakup 53 juta catatan konsumsi dan 17.000 produk menemukan pola serupa: konsumen sekarang memeriksa label bahan dengan serius dan menggunakan AI tools untuk mengambil keputusan pembelian. Dulu orang beli snack tertentu karena kebiasaan; sekarang lebih banyak yang bertanya ke AI dengan permintaan seperti “protein tinggi, serat tinggi” .


Tapi, Ada Sisi Gelapnya

Ini yang perlu kamu tahu.

Penelitian akademis tentang AI dan pilihan makanan menunjukkan bahwa sistem AI sudah digunakan oleh beberapa perusahaan makanan dan minuman untuk mengidentifikasi dan memanfaatkan kerentanan pengambilan keputusan konsumen secara real-time, dengan tujuan utama mendorong hasil komersial daripada mendukung kesehatan konsumen .

Ada juga konsep “hypernudge”—bukan lagi nudge statis yang dirancang sekali dan dibiarkan stabil, tapi prompt adaptif yang dibentuk ulang secara real-time berdasarkan apa yang sistem pelajari tentang konsumen spesifik. Nudge yang berubah setiap kali konsumen membuka aplikasi adalah objek yang fundamentally berbeda dari nudge yang teori nudge dirancang untuk jelaskan .

Dan soal kepercayaan? Response konsumen terhadap AI sangat bergantung konteks. Di beberapa situasi, orang lebih memilih judgment algoritmik daripada manusia . Tapi di situasi lain—terutama yang terkait makanan dan kesehatan—orang justru lebih tidak percaya rekomendasi dari algoritma dibandingkan rekomendasi yang diatribusikan ke manusia. Fenomena ini disebut “word-of-machine effect” .


Kesalahan yang Sering Terjadi

Kesalahan #1: Menganggap AI selalu benar soal gizi. Early evaluations menunjukkan hasil yang campur aduk. Beberapa rencana makan selaras dengan pedoman diet yang dipublikasikan, tapi ada juga kegagalan keamanan dan ketidakakuratan yang diidentifikasi spesialis dalam saran spesifik kondisi tertentu .

Kesalahan #2: Menyerahkan keputusan sepenuhnya ke AI tanpa guardrails. Otonomi penuh (8% konsumen siap untuk ini) berarti AI memilih apa yang kamu beli, dan kamu cuma bayar. Tanpa batasan yang jelas, ini bisa jadi masalah .

Kesalahan #3: Mengabaikan pertanyaan “kenapa”. AI bisa bilang “beli ini”. Tapi apakah kamu tahu kenapa? Apakah karena kamu butuh, atau karena sistem dirancang untuk mendorong pembelian? Ini pertanyaan yang perlu kamu tanyakan .


Tips Praktis untuk Kamu

Pertama, manfaatkan AI untuk eksplorasi, bukan keputusan final. Gunakan fitur seperti ThinQ Food atau Salad AI untuk menemukan opsi yang mungkin nggak terpikirkan. Tapi tetap gunakan judgmentmu untuk memutuskan .

Kedua, cek apakah AI-mu punya kepentingan komersial. Kalau kamu pakai AI agent untuk belanja, tanyakan: apakah dia netral? Atau dia didorong untuk mendorong brand tertentu? Transparansi itu penting .

Ketiga, jangan sepenuhnya tinggalkan manusia. Di restoran AI seperti 24 Jieqi atau Matryoshka, interaksi manusia masih ada—chef, server, bartender. Teknologi bisa meningkatkan efisiensi, tapi kehangatan dan koneksi manusia tetap nggak tergantikan .


Kenapa Ini Penting?

Karena Living, Eating, and AI 2026 bukan tentang teknologi yang menggantikan manusia. Ini tentang teknologi yang mulai memahami konteks kita.

Kulkas yang tahu kamu suka masak apa. Oven yang tahu kapan roti matang. AI yang tahu kamu mau snack tinggi protein. Restoran yang menyesuaikan menu dengan kondisi tubuhmu.

Tapi semua ini punya harga. Bukan cuma uang. Tapi privasi, otonomi, dan kemampuan untuk memutuskan sendiri.

Pertanyaannya bukan “apakah AI akan mengubah cara kita makan”. Itu sudah terjadi.

Pertanyaannya: apakah kamu masih yang memutuskan, atau kamu sudah menyerahkan keputusan itu ke sistem yang mungkin nggak sepenuhnya berpihak padamu?